Friday, 3 August 2012

12. SURAH Yusuf

12. SURAH Yusuf
Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang
[1]
Alif, Laam, Raa’. Inilah ayat-ayat Kitab yang nyata.
[2]
Sesungguhnya Kami menurunkan ia sebagai Al-Quran dalam bahasa Arab, agar kamu memahami.
[3]
Kami ceritakan kepadamu seindah-indah kisah dengan apa yang Kami wahyukan kepadamu Al-Quran ini, padahal sebenarnya engkau sebelumnya adalah termasuk orang-orang yang tidak mengetahui.
[4]
Ketika Nabi Yusuf berkata kepada ayahnya (Nabi Yaakub) “Wahai ayahku! Sesungguhnya aku (termimpi) melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan. Aku melihat mereka bersujud kepadaku”
[5]
Dia berkata “Wahai anakku! Janganlah engkau ceritakan mimpimu ini kepada saudara-saudaramu, sehingga mereka menjalankan suatu rancangan terhadapmu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.
[6]
Dan demikianlah cara Tuhanmu memilihmu, dan akan mengajarimu tafsir mimpi, dan akan menyempurnakan nikmatNya kepadamu dan kepada keluarga Yaakub, sebagaimana Dia telah menyempurnakannya kepada kedua datuk nenekmu dahulu, Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana”
[7]
Demi sesungguhnya! (Kisah) Nabi Yusuf dengan saudara-saudaranya itu mengandungi beberapa tanda bagi orang-orang yang bertanya.
[8]
Ketika mereka berkata (sesama sendiri) “Sesungguhnya Yusuf dan adiknya (Bunyamin), lebih disayangi ayah berbanding kita, padahal kita ini satu kumpulan. Sesungguhnya ayah kita berada dalam kesalahan yang nyata.
[9]
Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu tempat yang jauh, supaya akan terbebas untuk kamu sahajalah perhatian ayah, dan supaya kamu sesudah itu menjadi orang-orang yang baik dan berguna”
[10]
Salah seorang di antara mereka berkata “Janganlah kamu membunuh Yusuf, tetapi buanglah dia ke dasar perigi, supaya dia dipungut sebahagian dari orang-orang musafir, kalaulah kamu tetap hendak berbuat”
[11]
Mereka berkata “Wahai ayah kami! Mengapa ayah tidak mempercayai kami akan Yusuf, padahal sesungguhnya kami sentiasa tulus mengambil berat terhadapnya?
[12]
Biarkanlah dia pergi bersama-sama kami esok, supaya dia bersuka ria dan bermain-main. Dan sesungguhnya kami akan menjaganya dengan sebaik-baiknya”
[13]
Dia menjawab “Sesungguhnya (perbuatan) kamu membawanya bersama sangat mendukacitakan daku. Dan aku bimbang dia akan dimakan serigala, ketika kamu lalai daripadanya”
[14]
Mereka berkata “Kalaulah dia dimakan serigala, sedang kami satu kumpulan, maka sesungguhnya menjadilah kami orang-orang yang rugi”
[15]
Setelah mereka pergi dengan membawanya bersama, dan setelah mereka bersepakat melepaskannya ke dasar perigi, Kami ilhamkan kepadanya “Sesungguhnya engkau kelak akan memberitahu mereka mengenai hal ini, sedang mereka tidak sedari”
[16]
Dan sesudah itu, mereka kembali mendapatkan ayah mereka pada waktu senja sambil menangis-nangis.
[17]
Mereka berkata “Wahai ayah kami! Sesungguhnya kami telah pergi berlumba-lumba (berburu) dan kami telah tinggalkan Yusuf bersama barang-barang kami (menjaga), dan dia telah dimakan serigala. Dan sudah tentu engkau tidak mempercayai kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar”
[18]
Dan mereka kembali sambil membawa bajunya dengan darah palsu. Dia berkata “Tidak! Bahkan nafsu kamu telah menarik kamu ke dalam suatu perkara. Maka kesabaran jualah yang sebaik-baiknya, dan Allah jua yang dipohon pertolonganNya mengenai apa yang kamu katakan itu”
[19]
Dan datanglah ke tempat berkenaan satu rombongan yang sedang berada dalam perjalanan, dan mereka menghantarkan seorang pencari air bagi mereka. Kemudian (setelah) dia menghulurkan timbanya, dia berseru dengan katanya “Wah, alangkah bertuahnya! Ini seorang budak lelaki” Mereka justeru menyembunyikannya sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui akan apa yang mereka lakukan itu.
[20]
Dan mereka menjualnya dengan harga yang sedikit, dengan hanya beberapa dirham sahaja. Dan mereka sememangnya orang-orang yang tidak menghargainya.
[21]
Dan berkatalah orang Mesir yang membelinya kepada isterinya “Berikanlah dia layanan sebaik-baiknya. Semoga bermanfaat bagi kita, atau kita mengambilnya sebagai anak” Dan demikianlah cara Kami menetapkan kedudukan Yusuf di bumi, agar Kami mengajarinya sebahagian dari ilmu tafsir peristiwa. Dan Allah Maha Kuasa melakukan segala perkara yang telah ditetapkanNya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
[22]
Dan tatkala dia mencapai kematangannya, Kami berikan kepadanya kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan. Dan demikianlah Kami membalas orang-orang yang berusaha memperbaiki amalannya.
[23]
Dan dia (perempuan) yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya, menggodanya berkehendakkan dirinya. Dan dia (perempuan) menutup pintu-pintu seraya berkata “Marilah ke mari, awak” Dia menjawab “Aku berlindung kepada Allah. Sesungguhnya Tuhanku telah memeliharaku dengan sebaik-baiknya. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak mungkin akan berjaya”
[24]
Demi sesungguhnya dia (perempuan) berkeinginan yang teramat sangat kepadanya, dan dia (Yusuf) pula akan timbul keinginan kepadanya kalaulah dia tidak melihat bukti Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya perkara-perkara yang tidak baik dan perbuatan-perbuatan keji. Sesungguhnya dia adalah dari hamba-hamba Kami yang ikhlas.
[25]
Dan mereka berdua berkejaran hingga ke pintu, dan dia (perempuan) menarik bajunya (Yusuf) dari belakang hingga terkoyak. Dan terserempaklah keduanya dengan suaminya di muka pintu. Dengan tiba-tiba dia berkata “Tidak ada balasan bagi orang yang mahu melakukan kejahatan terhadap isterimu melainkan dipenjara atau dikenakan azab yang menyeksakan”
[26]
Dia (Yusuf) berkata “Dialah yang menggodaku berkehendakkan diriku” Dan tampillah seorang dari keluarga perempuan berkenaan memberi pendapat dengan berkata “Jika bajunya koyak dari belah hadapan, maka benarlah tuduhannya (perempuan), dan menjadilah dia (Yusuf) dari orang-orang yang dusta.
[27]
Dan jika bajunya koyak dari belah belakang, maka dustalah dia, dan dia (Yusuf) adalah dari orang-orang yang benar”
[28]
Setelah dia (suaminya) melihat bajunya koyak dari belah belakang, berkatalah dia “Sesungguhnya ini adalah tipu daya kamu. Sesungguhnya tipu daya kamu ini amatlah besar.
[29]
Wahai Yusuf, lupakanlah hal ini. Dan mohonlah keampunan bagi dosamu, sesungguhnya engkau dari orang-orang yang bersalah!”
[30]
Dan perempuan-perempuan di bandar berkata “Isteri Al-Aziz itu menggoda hambanya berkehendakkan dirinya, bahawa cintanya telah meresap ke dalam lipatan hatinya. Sesungguhnya kami memandangnya berada dalam kesesatan yang nyata”
[31]
Maka dia (Zulaikha) apabila mendengar cacian mereka, dia telah menghantarkan untuk mereka (undangan) dan menyediakan untuk mereka jamuan, dan memberikan tiap-tiap seorang di antara mereka sebilah pisau. Dan pada ketika itu, berkatalah dia (kepada Yusuf) “Keluarlah di hadapan mereka” Kemudian ketika mereka melihatnya, mereka tercengang melihat (keelokan rupa paras)nya, sehingga mereka (secara tidak sedarkan diri) melukakan tangan mereka sambil berkata “Maha Sempurna Allah! Ini bukanlah seorang manusia. Ini tidak lain melainkan malaikat yang mulia!”
[32]
Dia berkata “Inilah orangnya yang kamu tempelak aku mengenainya! Sebenarnya aku telah menggodanya daripada dirinya tetapi dia menyelamatkan dirinya. Dan sekiranya dia tidak mahu melakukan apa yang aku suruh, tentulah dia akan dipenjarakan, dan akan menjadi dari orang-orang yang hina”
[33]
Dia berkata “Wahai Tuhanku! Aku lebih suka kepada penjara daripada apa yang mereka mengajakku kepadanya. Dan sekiranya Engkau tidak menjauhkan daripadaku tipu daya mereka, mungkin aku akan cenderung kepada mereka, dan menjadi dari orang-orang yang bodoh”
[34]
Lalu Tuhannya memperkenankan doanya, dan dijauhkan daripadanya tipu daya mereka. Sesungguhnya Dialah jua yang Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui.
[35]
Kemudian timbul kepada mereka (suami dan orang-orangnya) setelah mereka melihat tanda-tanda bahawa mereka harus memenjarakannya hingga ke suatu masa.
[36]
Dan masuklah bersama-samanya ke dalam penjara dua orang muda. Salah seorang di antaranya berkata “Sesungguhnya aku (termimpi) melihat diriku memerah anggur” Dan berkata pula yang lain “Sesungguhnya aku melihat diriku menjunjung roti di atas kepalaku, yang sebahagiannya dimakan oleh burung” “Terangkanlah kepada kami akan tafsirnya. Sesungguhnya kami memandangmu dari kalangan orang-orang yang berbuat baik”
[37]
Dia menjawab “Tidak datang kepada kamu suatu makanan yang diberikan kepada kamu, melainkan aku juga dapat menyatakan kepada kamu mengenainya, sebelum ia sampai kepada kamu. Yang demikian adalah sebahagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku. Dengan sebab itulah aku meninggalkan agama kaum yang tidak beriman kepada Allah dan tidak percayakan hari akhirat.
[38]
Dan aku menuruti agama datuk nenekku, Ibrahim, Ishak dan (ayahku) Yaakub. Tidaklah patut kita mempersekutukan sesuatupun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari limpah kurnia Allah kepada kita dan kepada umat manusia. Tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.
[39]
Wahai sahabatku berdua yang sepenjara, adakah tuhan yang terpisah itu lebih baik atau Allah Tuhan Yang Maha Esa, lagi Maha Kuasa?
[40]
Apa yang kamu sembah, yang lain daripadaNya itu, hanyalah nama-nama yang kamu dan datuk nenek kamu namakan. Allah tidak pernah menurunkan sebarang bukti membenarkannya. Sesungguhnya Perintah hanyalah bagi Allah. Dia memerintahkan supaya kamu jangan menyembah melainkan Dia. Yang demikian, itulah Agama yang betul tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
[41]
Wahai sahabatku berdua yang sepenjara! Adapun salah seorang dari kamu, maka dia akan memberikan minuman arak kepada tuannya. Adapun yang lain, maka dia akan dipalang, dan burung akan memakan sebahagian dari kepalanya. Telah selesailah perkara yang kamu tanyakan itu”
[42]
Dan berkatalah dia kepada orang yang diketahuinya akan selamat di antara mereka berdua “Sebutkanlah aku kepada tuanmu” Tetapi dia telah dilupakan syaitan untuk menyebutkan kepada tuannya. Dengan sebab itu, tinggallah dia terpenjara beberapa tahun lamanya.
[43]
Dan sang Raja berkata “Sesungguhnya aku (termimpi) melihat tujuh ekor lembu yang gemuk dimakan tujuh ekor yang kurus, dan tujuh tangkai yang hijau dan yang lainnya kering. Wahai orang yang terkemuka, terangkanlah kepadaku mengenai apa yang aku lihat ini, kalaulah kamu orang yang pandai menafsirkan”
[44]
Mereka menjawab “Yang demikian itu adalah mimpi yang mengelirukan, dan kami bukanlah orang-orang yang mengetahui akan tafsiran mimpi-mimpi tersebut”
[45]
Dan berkatalah orang yang terselamat di antara mereka yang berdua itu apabila teringat kembali setelah suatu masa “Aku akan memberitahukan kepada kamu mengenai tafsirnya. Oleh itu, utuskanlah daku pergi”
[46]
“Wahai Yusuf, orang yang benar! Terangkanlah kepada kami, tujuh ekor lembu yang gemuk dimakan tujuh ekor yang kurus. Dan tujuh tangkai yang hijau dan yang lainnya kering, supaya aku kembali kepada orang-orang itu, semoga mereka mengetahui”
[47]
Dia menjawab “Kamu akan bercucuk tanam untuk tujuh tahun seperti biasa, dan apa yang kamu tuaikan itu biarkanlah ia pada tangkai-tangkainya, kecuali sedikit dari bahagian yang kamu makan.
[48]
Kemudian akan datang selepas itu, tujuh (tahun) yang berat, yang akan menghabiskan apa yang kamu sediakan baginya, kecuali sedikit dari apa yang kamu simpan.
[Kemarau]
[49]
Kemudian akan datang pula sesudah itu tahun yang padanya orang ramai beroleh rahmat hujan, dan padanya mereka dapat memerah (hasil anggur, zaitun, dan sebagainya)”
[50]
Dan berkatalah sang Raja “Bawakanlah dia kepadaku!” Tetapi tatkala utusan datang kepadanya, dia berkata “Kembalilah kepada raja kamu, dan bertanyalah kepadanya mengenai perempuan-perempuan yang melukakan tangan mereka? Sesungguhnya Tuhanku Maha Mengetahui akan tipu daya mereka”
[51]
Dia bertanya kepada mereka “Apakah hal kamu, semasa kamu memujuk Yusuf daripada dirinya?” Mereka menjawab “Maha sempurna Allah, kami tidak mengetahui sesuatu apapun kejahatan terhadap Yusuf” Isteri Al-Aziz pun berkata “Sekarang nyatalah kebenaran, akulah yang menggodanya daripada dirinya. Dan sesungguhnya dia dari kalangan orang-orang yang benar.
[52]
Yang demikian supaya dia mengetahui, bahawa aku tidak mengkhianatinya secara rahsia. Dan bahawa Allah tidak menjayakan tipu daya orang-orang yang khianat.
[53]
Dan aku tidak mengaku diriku suci. Sesungguhnya nafsu manusia itu sangatlah menyuruh melakukan kejahatan, melainkan orang-orang yang telah diberikan rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang”
[54]
Dan sang Raja berkata “Bawakanlah dia (Yusuf) kepadaku, aku akan memilihnya untuk diriku. Setelah dia berbual-bual dengannya, berkatalah sang Raja “Sesungguhnya engkau pada hari ini, seorang yang berpangkat, lagi dipercayai di kalangan kami”
[55]
Dia berkata “Jadikanlah daku pengurus perbendaharaan hasil bumi. Sesungguhnya aku seorang penjaga yang berpengetahuan”
[56]
Dan demikianlah caranya, Kami menetapkan kedudukan Yusuf di bumi. Dia bebas tinggal di dalamnya di mana sahaja yang disukainya. Kami limpahkan rahmat Kami kepada sesiapa sahaja yang Kami kehendaki, dan Kami tidak menghilangkan balasan baik orang-orang yang berbuat kebaikan.
[57]
Dan sesungguhnya pahala hari akhirat lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan mereka sentiasa bertakwa.
[58]
Dan datanglah saudara-saudara Yusuf, dan mereka masuk mendapatkannya. Dia dengan serta-merta mengenali mereka, sedang mereka tidak mengenalinya.
[59]
Dan ketika dia menyediakan untuk mereka bekalan (makanan) mereka, berkatalah dia “Bawakanlah kepadaku saudara kamu yang seayah. Tidakkah kamu melihat, bahawa aku menyempurnakan bekalan kamu, dan bahawa aku sebaik-baik penerima tetamu?
[60]
Tetapi kalau kamu tidak membawakannya kepadaku, maka tiadalah lagi hak bagi kamu mendapatkan bekalan di sisiku, dan janganlah kamu menghampiriku lagi”
[61]
Mereka menjawab “Kami akan cuba mendapatkan keizinan ayahnya untuknya, dan sesungguhnya kami akan melakukannya”
[62]
Dan berkatalah dia kepada orang-orang suruhannya “Masukkanlah barang-barang dagangan mereka (semula) di tempat simpanan barang kenderaan mereka, supaya mereka mengetahuinya kelak ketika mereka kembali kepada keluarga mereka, dan mudah-mudahan mereka akan kembali lagi”
[63]
Maka ketika mereka kembali kepada ayah mereka, berkatalah mereka “Wahai ayah kami! Kami tidak akan mendapat bekalan lagi. Oleh itu, hantarkanlah dia (Bunyamin) bersama-sama kami, supaya kami mendapat bekalan. Dan sesungguhnya kami akan menjaganya dengan sebaik-baiknya”
[64]
Dia berkata “Aku tidak menaruh kepercayaan kepada kamu terhadapnya melainkan sepertimana kepercayaanku kepada kamu terhadap saudaranya dahulu. Dan Allah jualah Penjaga yang sebaik-baiknya, dan Dialah jua Yang Maha Penyayang dari sesiapa sahaja yang menaruh belas kasihan”
[65]
Dan mereka, semasa membuka barang-barang mereka, mereka dapati barang-barang dagangan mereka telah dikembalikan kepada mereka. Mereka berkata “Wahai ayah kami! Apa yang kita kehendaki lagi? Ini adalah barang-barang dagangan kita yang telah dikembalikan semula kepada kita. Dan kami akan mendapat bekalan untuk keluarga kami, dan kami akan dapat menjaga saudara kami, dan akan mendapat tambahan bekalan muatan seekor unta. Pemberian bekalan yang mudah (sekali ditunaikan)”
[66]
Dia berkata “Aku tidak sekali-kali akan menghantarkannya pergi bersama-sama kamu, sehinggalah kamu memberikan kepadaku satu perjanjian atas nama Allah, bahawa kamu akan membawanya kembali kepadaku, kecuali jika kamu semua dikepung” Dan ketika mereka memberikan perjanjian mereka kepadanya, berkatalah dia “Allah jualah yang menjadi Saksi dan Pengawas atas apa yang kita ucapkan”
[67]
Dan dia berkata lagi “Wahai anak-anakku! Janganlah kamu masuk (ke bandar Mesir) dari sebuah pintu sahaja, tetapi masuklah dari beberapa buah pintu berlainan. Namun begitu, aku tidak dapat menyelamatkan kamu daripada Allah sesuatu apapun. Kuasa menetapkan sesuatu itu hanyalah bagi Allah. KepadaNyalah aku berserah diri, dan kepadaNyalah hendaknya berserah orang-orang yang mahu berserah diri”
[68]
Dan ketika mereka masuk menuruti arah yang diperintahkan ayah mereka, tidaklah ia dapat menyelamatkan mereka daripada Allah sesuatu apapun. Tetapi yang demikian itu hanyalah untuk melahirkan hajat yang terpendam dalam hati Nabi Yaakub. Dan sesungguhnya dia seorang yang berilmu, kerana Kami telah mengajarinya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
[69]
Dan semasa mereka masuk menemui Yusuf, dia segera mendapatkan saudara kandungnya kepadanya sambil dia berkata “Sesungguhnya akulah saudara engkau (Yusuf). Oleh itu, janganlah berdukacita lagi disebabkan apa yang mereka lakukan”
[70]
Maka ketika dia membekali mereka dengan bekalan mereka, diletakkannya bekas minuman pada simpanan saudaranya (Bunyamin), kemudian menyerulah seorang penyeru “Wahai para kafilah, sesungguhnya kamu ini pencuri”
[71]
Mereka bertanya sambil menghadap ke arah mereka (penyeru) “Apakah yang kamu kehilangan?”
[72]
Mereka menjawab “Kami kehilangan bekas minuman raja. Dan sesiapa yang memulangkannya, (baginya bekalan) bebanan seekor unta, dan akulah yang menjaminnya”
[73]
Mereka berkata “Demi Allah! Sesungguhnya kamu sedia mengetahui bahawa kedatangan kami bukanlah untuk berbuat kerosakan di bumi ini, dan kami pula bukanlah pencuri”
[74]
Mereka (penyeru) bertanya “Maka apakah balasan baginya, jika kamu berdusta?”
[75]
Mereka menjawab “Balasannya, sesiapa yang didapati benda tersebut pada simpanannya, maka dialah sendiri yang menjadi balasannya. Demikianlah kami membalas orang-orang yang zalim”
[76]
Maka dia (Yusuf) mula memeriksa tempat-tempat simpanan mereka sebelum memeriksa tempat simpanan saudara kandungnya, lalu dia mengeluarkan ia dari tempat simpanan saudara kandungnya. Demikianlah Kami rancangkan untuk Yusuf. Tidaklah dia dapat mengambil saudara kandungnya menurut undang-undang raja, melainkan jika dikehendaki Allah. Kami tinggikan pangkat kedudukan sesiapa yang Kami kehendaki, tetapi tiap-tiap orang yang berilmu pengetahuan, ada lagi Yang lebih mengetahui.
[77]
Mereka berkata “Kalaulah dia mencuri, maka sesungguhnya saudara kandungnya juga pernah mencuri dahulu” Tetapi Yusuf menyembunyikannya dalam dirinya, dan tidak menyatakannya kepada mereka, sambil dia berkata (dalam hatinya) “Kamulah yang lebih buruk kedudukannya. Dan Allah Maha Mengetahui akan apa yang kamu katakan itu”
[78]
Mereka berkata “Wahai datuk menteri! Sesungguhnya dia mempunyai seorang ayah yang telah lanjut usianya. Oleh itu, ambillah salah seorang di antara kami sebagai ganti. Sesungguhnya kami memandangmu dari kalangan orang-orang yang sentiasa berbudi”
[79]
Dia menjawab “Kami berlindung kepada Allah dari mengambil sesiapapun melainkan orang yang kami dapati milik kami bersamanya. Sesungguhnya kami, akan menjadilah orang-orang yang zalim”
[80]
Maka apabila mereka berputus asa terhadapnya, mereka kemudiannya mengasingkan diri lalu berbincang secara rahsia. Berkatalah yang tertua di antara mereka “Tidakkah kamu ketahui bahawa ayah kita telah mengambil janji daripada kamu atas nama Allah. Dan dahulupun kamu telah gagal dalam perkara Yusuf? Oleh itu, aku tidak sekali-kali akan meninggalkan negeri ini sehinggalah ayahku mengizinkan aku, atau sehingga Allah memberikan keputusan terhadapku. Dan Dialah Hakim yang seadil-adilnya.
[81]
Kembalilah kepada ayah kita dan katakanlah “Wahai ayah kami! Sesungguhnya anakmu telah mencuri, dan tidaklah kami memberikan keterangan melainkan apa yang kami ketahui, dan kami tidaklah dapat menjaga perkara yang ghaib.
[82]
Dan bertanyalah kepada penduduk bandar tempat kami berada di situ (berdagang) atau kepada kafilah yang kembali bersama kami. Dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar”
[83]
Berkatalah dia “Tidak! Bahkan nafsu kamu telah menarik kamu ke dalam suatu perkara. Maka kesabaran jualah yang sebaik-baiknya. Mudah-mudahan Allah mengembalikan mereka semua kepadaku. Sesungguhnya Dia, Dialah jua Yang Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana”
[84]
Dan dia berpaling daripada mereka sambil berkata “Aduhai sedihnya aku terhadap Yusuf” Dan menjadilah kedua belah matanya putih disebabkan kesedihan sambil dia menahan.
[85]
Mereka berkata “Demi Allah, kamu tidak henti-henti mengenangkan Yusuf, sehingga kamu sakit merana, atau menjadi dari orang-orang yang binasa”
[86]
Dia menjawab “Sesungguhnya aku hanya mengadu kesusahan dan kesedihanku kepada Allah, dan aku mengetahui daripada Allah, apa yang kamu tidak ketahui.
[87]
Wahai anak-anakku! Pergilah dan carilah khabar berita mengenai Yusuf dan saudaranya (Bunyamin), dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat Allah itu melainkan orang-orang yang kafir”
[88]
Maka setelah mereka masuk menghadapnya (Yusuf), berkatalah mereka “Wahai Datuk Menteri, kami dan keluarga kami telah menderita kesusahan, dan kami datang dengan membawa barang-barang yang kurang baik dan tidak berharga (untuk dijadikan tukaran). Oleh itu, sempurnakanlah sukatan bekalan untuk kami dan mendermalah kepada kami, sesungguhnya Allah akan membalas orang-orang yang menderma”
[89]
Dia berkata “Tahukah kamu apa yang kamu telah lakukan kepada Yusuf dan adiknya, semasa kamu jahil?”
[90]
Mereka bertanya “Engkaukah sesungguhnya Yusuf?” Dia menjawab “Akulah Yusuf dan inilah adikku (Bunyamin). Sesungguhnya Allah telah mengurniakan nikmatNya kepada kami. Sesungguhnya sesiapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menghilangkan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan”
[91]
Mereka berkata “Demi Allah! Sesungguhnya Allah telah melebihkan dan memuliakan engkau daripada kami. Dan sesungguhnya, kami adalah orang-orang yang bersalah”
[92]
Dia berkata “Kamu pada hari ini tidak akan ditempelak atau dipersalahkan, semoga Allah mengampunkan dosa kamu. Dan Dialah jua Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.
[93]
Pergilah bersama bajuku ini, kemudian letakkanlah pada muka ayahku supaya dia dapat melihat, dan setelah itu bawakanlah kepadaku keluarga kamu semuanya sekali”
[94]
Dan semasa kafilah masih lagi dalam perjalanan (pulang), berkatalah ayah mereka (kepada kaum keluarga yang ada di sisinya) “Sesungguhnya aku terhidu bau Yusuf. Sekiranya kamu tidak menuduhku nyanyuk”
[95]
Mereka berkata “Demi Allah! Sesungguhnya engkau (ayah) masih lagi berada dalam kekeliruanmu yang dulu”
[96]
Dan ketika tiba pembawa khabar berita yang menggembirakan itu, dia meletakkannya pada mukanya (Nabi Yaakub), kemudian kembalilah penglihatan. Dia berkata “Bukankah aku telah katakan kepada kamu, sesungguhnya aku mengetahui daripada Allah, apa yang kamu tidak ketahui?”
[97]
Mereka berkata “Wahai ayah kami! Mohonkanlah keampunan bagi kami akan dosa-dosa kami. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah”
[98]
Dia berkata “Aku akan memohon keampunan bagi kamu daripada Tuhanku. Sesungguhnya Dia, Dialah jua Yang Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang”
[99]
Dan ketika mereka masuk menemui Yusuf, dia segera mendapatkan kedua ibu bapanya kepadanya, sambil berkata “Masuklah kamu ke negeri Mesir, insyaAllah selamat.
[100]
Dan didudukkannya kedua ibu bapanya di atas kerusi kebesaran, dan mereka bersujud merebahkan diri kepada Yusuf, dan dia berkata “Wahai ayahku! Inilah tafsiran mimpiku dahulu. Sesungguhnya Tuhanku telah menjadikan ia benar. Dan sesungguhnya Dia telah melimpahkan kebaikan kepadaku ketika Dia mengeluarkan daku dari penjara dan membawa kamu dari kehidupan badwi sesudah perbalahan antaraku dengan saudara-saudaraku oleh syaitan. Sesungguhnya Tuhanku lemah-lembut tadbirNya bagi apa yang dikehendakiNya. Sesungguhnya Dia, Dialah jua yang Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana"
[101]
“Wahai Tuhanku! Sesungguhnya Engkau telah mengurniakan daku sebahagian dari kekuasaan dan mengajariku sebahagian dari ilmu tafsir peristiwa (mimpi). Wahai Pencipta langit dan bumi, Engkaulah Penguasa dan Pelindungku di dunia dan di akhirat. Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam, dan satukanlah daku dengan orang-orang yang soleh”
[102]
Demikianlah di antara berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepadamu, sedang engkau tidak ada bersama-sama mereka semasa mereka bersepakat merancangkan dan semasa mereka menjalankan rancangan.
[103]
Dan kebanyakan manusia tidak akan beriman walaupun engkau terlalu ingini.
[104]
Padahal engkau tidak meminta kepada mereka sebarang upahpun mengenainya, sedang ia tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh dunia.
[Al-Quran]
[105]
Dan berapa banyak tanda di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka tidak jua menghiraukan dan memikirkannya.
[106]
Dan kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah melainkan mereka mempersekutukanNya dengan yang lain.
[107]
Adakah mereka merasa aman dari kedatangan azab Allah yang meliputi mereka, atau didatangi Saat secara mengejut, sedang mereka tidak sedari?
[108]
Katakanlah “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang menurutiku, menyeru manusia umumnya kepada agama Allah dengan wawasan. Maha suci Allah dan bukanlah aku dari golongan yang menyekutukan (Allah)”
[109]
Dan tidaklah Kami mengutuskan sebelummu melainkan orang lelaki yang Kami berikan wahyu kepadanya di kalangan penduduk negeri. Oleh itu, mengapa orang-orang itu tidak mengembara di muka bumi, supaya memerhatikan bagaimana akibat orang-orang yang terdahulu daripada mereka? Dan sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Oleh itu, mengapa kamu tidak mahu memikirkannya?
[110]
Sehingga apabila Rasul-rasul berputus asa dan menyangka bahawa mereka telah didustakan, datanglah pertolongan Kami kepada mereka. Dan diselamatkan sesiapa yang Kami kehendaki, dan azab Kami tidak akan dapat ditolak dari menimpa kaum yang berdosa.
[111]
Demi sesungguhnya, kisah mereka itu mengandungi pelajaran yang mendatangkan iktibar bagi orang-orang yang mempunyai akal fikiran. Bukanlah ia cerita yang diada-adakan, tetapi pengesahan apa yang sebelumnya, dan keterangan yang menjelaskan tiap-tiap sesuatu, dan petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.